Indonesiska föreningen  Perkumpulan Indonesia di Göteborg

Start                      Uppåt Styrelsen Webmaster

Start Uppåt

Uppåt 2004 maj 2004 Dec 2005 Jan 2005 Okt 2005 Nov 2005 Dec 2005 Dec2 2006 Jan 2006 Mars 2006 Juni 2006 Augusti 2006 Sep Backadalen 2006 okt 2006_Nov 2006_nov2 2006Dec 2006Dec2 2006Dec3 2007Jan 2007_Feb 2007_Juni 2007_aug 2007_okt 2007_okt2 2008_feb 2008_jun 2008_okt 2008-Nov 2008_nov2 2009:feb 2009_Sep 2009:Sep_2 2009_sep3 2009_okt 2009_okt2 2009_okt3 2009_okt4 städning 2010 2010-jul 2010-sep 2010-sep2 2010-dec 2012_mrs 2012_mrs_2

 

Indonesiska föreningen

 

Pesta Rakyat "Larsmässe Marknad" di Göteborg 5 Agustus 2006

Nama Lars diambil dari nama Laurentius, seorang manusia suci dalam legende Abad Pertengahan Swedia. Kata mässa mengandung arti upacara gereja, karena itu Larsmässa sekali gus mengandung ingatan massa rakyat (kristen) akan orang suci Lars (S:t Lars) yang mati diatas api unggun demi kesucian orang kristen. Dalam tahun 1800-an pesta rakyat ini bersemarak di kota Göteborg, biasanya pada musim panas bulan Agustus tiap tahun.

Pada zaman pertengahan, Larsmässe marknad adalah sebuah hari pesta bagi rakyat banyak di Swedia di daerah Göteborg. Pada hari itu berkumpul rakyat dari segala penjuru Göteborg, orang desa, petani, penangkap ikan, buruh kota, laki-laki maupun wanita, orang tua dan anak-anak, dengan segala macam barang dagangan dan produksi abad pertengahan. Hari itu juga merupakan tempat pertemuan yang sangat penting bagi rakyat kecil (små folket), melepaskan lelah dan dahaga setelah sepanjang tahun kerja berat di ladang-ladang pertanian, kerja berat ditengah laut bagi penangkap ikan dan buruh-buruh kota maupun pekerja lainnya. Ketika itu tidaklah banyak hari-hari libur bagi mereka ini, dan hari Larsmässe marknad adalah salah satu yang terpenting dan paling berharga kalaupun bukan satu-satunya ketika itu.

Dalam pasar ini jugalah diperdagangkan manusia sebagai budak. Disini terjadi tawar menawar harga manusia terutama babu wanita (piga) dan buruh ladang (drängar) atau dengan perkataan lain yang lebih tepat "perdagangan manusia" seperti yang digambarkan oleh seorang professor wanita yang telah mempelajari pesta rakyat abad pertengahan ini (prof Birgitta Skarin Frykman). Tempat jual beli budak ini berada di ujung jembatan Lejon-bron didepan Gustaf Adolf torg sekarang ini.

Perdagangan yang ramai, perdagangan budak, teriakan kuda liar maupun jinak serta dengan pesta dan tari yang biasanya selalu dibumbui pula dengan minuman beralkohol seperti anggur dan wodka Swedia (brännvin), dengan sendirinya memaksa penguasa kota melirikkan matanya ke pesta rakyat ini, menganggap ’keributan’ harus dikurangi atau ditiadakan sama sekali. Maka dalam tahun-tahun 1800-an itu juga, justru disaat-saat bertambah ramainya pesta ini setiap tahun, muncullah usaha penguasa untuk memindahkan atau melarang sama sekali. Maka tempatnya pun sering berpindah-pindah selama seratus tahun itu. Tahun-tahun 1850-an dan 60-an adalah tahun-tahun kejayaan Larsmässe Marknaden atau seperti rakyat kecil katakan tahun-tahun indah pesta rakyat ("de gamla goda tiden").

Sebagai akibat dari usaha keras dari pihak penguasa kota untuk ’menjaga ketertiban’, maka pada permulaan 1900-an pesta rakyat ini sudah berhenti dan ditutup sama sekali. Tetapi dengan dibukanya Liseberg tahun 1923, maka lanjutan pesta Larsmässa berupa tradisi pesta rakyat dari abad pertengahan, dan berbagai atraksi tradisionil lainnya masih bisa disalurkan lewat Taman Hiburan Liseberg.

Hampir 100 tahun Larsmässe Marknad hilang dan terlupakan, dan mulai lagi dihidupkan dari tidur jangka panjangnya, tepat ketika sedang berjalan Pesta Göteborg (Göteborgskalas) 2002. Sepanjang jalan Norrahamngatan didepan Stadsmuseum dan Gustaf Adolf torg, berdiri bangunan-bangunan pedagang (kiosk) dengan berbagai produksi abad pertengahan (asli atau tiruan) dan barang-barang modern, dimeriahkan pula dengan dentuman-dentuman meriam dan iring-iringan kereta kuda kepala daerah Västra Götaland (Landshövding Göte Bernhardsson) . Tidak kurang dari 18 000 pengunjung pada pembukaan pertama Larsmässe Marknad setelah 100 tahun tidur.

Tahun ini pada tanggal 5 Agustus 2006, diadakan Larsmässe marknad di halaman Stadsmuseum Göteborg di Norrahamn gatan. Tahun ini agak lain dari tahun-tahun sebelumnya maupun dari zaman pertengahan, karena kali ini di sesuaikan dengan perkembangan zaman, dimana Göteborg sudah merupakan kota multi-kultur internasional. Maka tahun ini disamping orang-orang Swedia dari ’abad pertengahan’, juga diikut sertakan atau diberi kesempatan bagi semua organisasi atau perkumpulan dari berbagai negeri seperti Pilipina, Iran, Slovenia, Gambia dll, termasuk Perkumpulan Indonesia di Göteborg. Perkumpulan kita, disamping memberikan informasi soal-soal Indonesia dan membagi-bagikan brosur-brosur soal tanah air kita, memperkenalkan sejumlah barang pakaian tenunan tangan, beberapa alat-alat rumah tangga dari Kalbar (Dayak Ngajuk), dan juga memperkenalkan beberapa pakaian adat berbagai daerah di Indonesia a.l. Manado (Sulut), Karo (Sumut), dan Bali.

Publik yang berdesak-desak dihalaman Stadsmuseum sempat juga menyaksikan beberapa tarian dari Bali yang ditarikan oleh seorang gadis manis berumur 13 tahun bernama Emeli. Pengunjung yang memenuhi halaman Stadsmuseum dan perhatian publik atas ’pavilion’ Indonesia dan pertunjukan kulturnya, telah memberikan dan meninggalkan kesan tersendiri yang sangat indah dikalangan pengelola Larsmässe Marknad maupun didalam ingatan penduduk kota Göteborg pada umumnya bahwa Indonesia adalah negeri yang indah dan sangat kaya dengan warisan tradisi dan kulturnya. (Lihatlah juga foto-foto pertunjukan).

Göteborg, 5 Agustur 2006

Ginting & Rosa.